web gratis

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Sunday, 18 September 2016

SERTIFIKAT HALAL OLEH MUI DALAM PRODUK TEKSTIL BAHAN KIMIA APAKAH PERLU ?



LABEL HALAL PERLUKAH PADA PRODUK PAKAIAN ?

Selama belum kiamat dan bertumbuhan manusia tidak berhenti, dalam artian setiap hari pasti ada angka kelahiran sehingga penduduk atau manusia bumi selalau bertambah,sebagai makhluk sosial mestinya pakaian sangatlah diperlukan untuk menutupi angggota badan dan ini merupakan pembeda antara manusia dengan makhluk lain ciptaan Allah.
Adapun bahan pakaian sangatlah bermacam-macam, ada yang terbuat dari alam maupun syntethics, yang dari alam misalanya : Katun, wool, viscose
Sementara yang dari Synthetics misalanya : Nilon, Polyester
Nah sekarang haruskan MUI mewajibkan label halal dari produk pakain ? seperti yang telah banyak diketahui bahwa penduduk Indonesia secara statistik ( administratif KTP ) bahwa mayoritas beragama Islam, dalam Islam dikenal hukum Halal dan haram, sehingga segala sesuatu terutam produk makan selalu saja dikaitkan dengan hal tersebut, sebanarnya orang non muslim pun mendapat informasi dan mengetahui hukum tersebut, sehingga produk-produk makanan atau yang berhubungan dengan kebutuhan pokok bangsa Indonesia diperlukan pengukuhan kehalalnya.
Dalam penerapan hukum tersebut walaupun banyak yang tahu akan tetapi ada yang peduli, ada yang acuh tak acuh, sehingga ini akan sangat memberatkan dalam pengontrolan dan pengawasanya.
Sekarang kita mencoba membahas mengenai perlu dan tidaknya produk pakaian dsertifikasi atau dilabeli HALAL, pernah terjadi perbincangan yang sangat seru di sebuah radio swasta lokal tentang hal tersebut, ternyata terjadi pro dan kontra yang sangat menarik diperdebatkan dan akhirnya sampai saat ini MUI pun belum memutuskan, bahkan saat itu ada seorang penelpon yang sangat ngotot menyatakan tidak perlunya sertifikast halal dengan menyampaikan argumen yang sangat kuat dan mengatakan bahwa bliau sudah berpengalaman di dunia pembuatan Tekstil ( kain ).
OK . mari  kita tengok proses pembuatan benang sebagai bahan dasar kain, benang yang dari alam dari kapas dalam proses pemilinan ( Spinning ) tentunnya memerlukan pelicin ( pelumas ) untuk mengurangi friksi yang bisa menyebabkan rusaknya helaian filamen yang dapat mengurangi kekuatan benang tersebut, nah pelumas ini yang perlu di waspadai, karena tentaunya dari pihak produsen menginginkan pelumas yang cocok, dan murah karena dari sisi ekonomisnya, adapaun untuk pembuat pelumas sebagian besar produk Asing yang kurang care terhadap hukum halal dan haram, dan perlu diketahui bahwa pelumas untuk membantu proses pembuatan benang ada yang alami maupun synthetics, yang dari alami mestinya diambil dari bahan yang sangat murah dan bisa diproduksi secara masal dan cepat, apabila mengacu dari dasar ini bahan alternatif mestinya dari hewan, dan hewan yang memiliki kandungan lemak atau minyak yang banyak dan mudah dikembangbiakan hanyalah Babi.
Demikian juga untuk benang Synthetics dalam proses pembuatnyapun tidak terlepas dari penggunaaan pelumas ( pelicin ) karena pelumas akan mengurangi daya friksi, mengurangi elektrostatic, sehingga benang tidak mudah putus, tidak kaku, sehingga mudah dipilin atau digulung dalam winder.
Seandainya pelumas yang digunakan bukanlah dari bahan synthetics, mestinya tidak akan terlepas dari bahan yang telah kami sebutkan di atas, sehingga benang tersebut tentu akan berlumuran pelumas, nah apakah pelumas tersebut bisa hilang sempurna saat dibuat kain ? bisa ya dan bisa juga tidak tergantung saat proses pembuatanya.
Nah dari gambaran di atas, sekarang perlukah MUI menerbitkan sertifikat HALAL terhadap produk Tekstil ?walaupun selama ini yang selalu dikaitkan dengan sertifikat halal biasanya hanya produk makanan, sedangkan bahan pakaian atau pakaian tidaklah mungkin untuk dimakan.
Memang hal ini tidaklah mudah bagi MUI, karena memerlukan keahlian khusus dalam mencari dan mengidentifikasi bahan-bahan yang tergolong haram atau halal, terlebih apabila perusahaan pembuat benang atau kain sangat tertutup, dengan dalih merupakan rahasia perusahaan yang tidak boleh diketahui dan bocor kepada umum.
Belum lagi cara menguji bahan untuk pembuktianya memerlukan teknologi yang sangat canggih,apakah di MUI sudah tersedia tenaga ahlinya ? dan hal yang lebih penting lagi sttruktur kimia minyak dari lemak babai, dalam pengujian gas chromatographi memiliki kemiripan dengan minyak dari lemak sapi, pastilah ini akan sangat membingungkan, jadi selama ini yang sebagai dasar patokan adalah pihak badan sertifikasi hanay meninjau proses, dan didiagram proses berdasarkan data yang dibuata oleh produsen, yang dengan mudah menyebutkan semuanya beasal dari bahan yang halal, dan hal yang perlu diketahui mestinya produsen sudah mengkondidikan keadaan saat akan diadakan inspeksi oleh pihak pemberi sertifikat.
Perlu pemikiran dan penelaahan lebih inten.



Post a Comment