web gratis

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Sunday, 1 March 2015

Reaksi samping secara detail dan sistem katalis pada polyester



DETAIL REAKSI SAMPING DALAM SINTESA PET ( POLYESTER )

Dalam sintesa pembuatan PET secara komersial struktur Polyethylene Terephthalate tidaklah terbentuk linier sempurna.Polymer bulk yang dibuat pada proses leleh mengandung sejumlah kecil Cyclic Ethylene Terephthalate seperti Trimer, Tetramer dan pentamer, dengan tambahan mengandung sedikit ikatan ether.


Tahap Polykondensasi saat Polymerisasi Leleh juga dapat menghasilkan produk terdegradasi seperti yang telah ditunjukan pada Degradasi Thermal sebelumnya.
Jumlah produk terdegradasi akan tergantung pada lamanya treatment Thermal.


SISTEM KATALIS

Sistem katalis hal yang sangat penting selama reaksi Esterifikasi dan Polykondensasi pada sintesa PET. Sistem katalis akan berpengaruh kecepatan reaksi, Warna dan Reaksi samping.
Katalis yang biasanya sering digunakan adalah yang mengandung Oxide dan Asetat pada Antimony  ( Sb ) Lithium, Calcium, Magnesium, Manganase, Zinc, Germanium dan atau campuran dari bahan-bahan tersebut.
 

Selanjuytnya akan kami samapaikan tentang detail Degradsi thermal
Salam/Sunarta

Polymerisasi pembuatan Polyester



POLIMERISASI


Rincian Ilmu kimia Polymerisasi , kinetic dan pembuatanya yang telah disebutkan terahulu, dan dapat diperoleh dalam beberapa sumber,. Tujuan dari diskusi sekarang yang mana hanya untuk mereview tentang Kimia Polymerisasi.
Sintesa PET skala besar biasanya dilakukan dengan salah satu proses dari kedua proses yaitu : POLYMERISASI LELEH atau POLYMERISASI KONDISI PADAT., seperti digambarkan pada gambar di bawah.
Dalam Polymerisi Leleh Dimethyl Terphtalate ( DMT ) atau Terepthalic Acid ( TPA ) direaksikan dengen Ethylene Glycol ( EG ) dengan keahdiran satu atau kombinasi Katalis, Suhu dengan antara 190º C- 200ºC untuk membentuk Bis-Hydroxyethyl Terephtalate ( BHET/Monomer ) dengan menyingkirkan Metahnol ( kalau Bahan baku DMT ) atau Air ( apabila bahan baku TPA ). Produk BHET yang terbentuk di jadikan Polymer pada kondisi vakum pada suhu 275ºC - 285ºC dan Glycol sisa di destilasi.


Dalam Polimerisasi padat, biasanya diawali dengan material PET yang dengan berat molekul rendah,dibuat dengan Polymerisais leleh dan kemudian dirubah menjadi bentuk pellet atau serbuk. Prekusordipolimerisasi menjadi Polymer dengan Berat Molekul tinggi dengan cara dilakukan reaksi
dalam keadaan Vakum yang tinggi, Suhu dibawah ttitk leleh PET.
Biasanya suhu pada tahap ini berkisar antara 200 - 245ºC., ini sangat jelas bahwa PET yang dibuat dengan metode padat biasanya menghasilkan degradasi thermal yang rendah bila dibandingkan dengan hasil menggunakan metode basah.

Selanjutnya akan kami samapaikan tentang sistem Katalis

salam / Sunarta
 






NUTRISI UNTUK BAKTERI PENGURAI LIMBAH



NUTRISI UNTUK BAKTERI PENGURAI LIMBAH

Bakteri starter yang telah kami kenalkan sebelumnya agar bisa tumbuh dan bekerja secara efektif dalam menguari limbah entunya memerlukan Nutrisi, biasanya untuk nutrisi yang diberikan adalah Urea, akan tetapi harga Urea untuk industri sangat mahal, dan tidak boleh menggunakan Urea subsidi karena ada sangsi hukumnya.
Disini kami kenalkan Nutrisi pengganti Urea dengan nama KALVABIO MN -200,yang merupakan Nutrisi microorganisme untuk pengolahan air limbah secara Biologi, yang mana merupakan hasil formulasi bahan-bahan nutrisi yang tepat, KALVABIO MN-200 mengandung Macro Nutrisi dan diperkaya dengan Micro Nutrisi dan aditiv khusus yang mampu mempercepat pertumbuhan Bakteri dan mengoptimalakan bakteri dalam mengurai material Organic dalam proses unit pengolah limbah.
Dengan menggunakan dosis yang sedikit, dibanding dengan nutris konvensional, KALVABIO MN-200 menjamin performance lebih bagus pada lumpur aktif dalam mendegradasi nilai BOD dan merduksi TSS pada proses Unit Pengolah Limbah ( Waste Water Treatment ).
Propertis secara fisik KALVABIO MN-200 :
1.Bentuk fisik                                                 : Cairan
2.Penampakan                                     : Cairan bening
3.Bau                                                               : aroma Amonia
4.Densiti                                                          : 1.15 - 1.25 Kg/L
5.pH                                                                : 6.0 - 8.0
6.Kandungan padatan                         : 25 % Min
7.Batas penyimpanan                          : 6 bulan
8.Kelarutan dalam air                          : Larut sempurna

Dosis penggunaan :
Dosis harus dikalkulasi berdasarkan beban BOD ( Kg/hari ) normalnya dosis berkisar
3 - 5% berdasar BOD dalam sistem aerasi atau kisaran 0.1 - 0.5 % beban COD untuk sistem Anaerob dan tergantung kualitas dari limbah.dan hal yang penting pada tangki Aerasi dan dosis optimal harus dievaluasi.

Dengan menggunakan Nutrir ini kita bisa menghemat biaya antara 10-20% bila dibanding menggunakan Urea.