web gratis

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Monday, 21 December 2015

OBAT TRADISIONAL T.B.C

MENGOBATI T.B.C SECARA TRADISIONAL

Anda pernah mendengar penyakit T.B.C ? tentunya penyakit ini tidak asing, dan biasanya penderitanya suka dijauhi karena mereka takut tertular, ya memang T.B.C adalah penyakit yang menular, dan sangat berbahaya, bahkan bagi penderitanya kalau tidak segera ditangani akan berujung kepada kematian.
Penyakit T.B.C ( Tubercolusa ) bisa juga dari turunan dan bisa juga dari penularan, kalau sampai parah bisa muntah darah dan ujung-ujungnya nyawa melayang.
barangkali tip tradisioanl ini bisa bermanfaat :
1. Ambil segenggam daun pare anom
2. Ambil Secangkir Adas Pulosari
3. Ambil 2 sendok makan gula aren.
Masukan segenggam daun pare anom dan adas pulosari, dalam panci kecil ( 5 liter ) tambahkan air sampai hampir penuh, dan rebuslah sampai mendidih kira-kira 30 menit atau air tinggal seperempat panci, ingat saat merebus pamci harus tertutup rapat.
Angkat rebusan tersebut, dan masukan 2 sendok gula aren sambil diaduk-aduk, kemudaina diamkan sampai dingin.
Minumlah rebusan ramuan tersebut pagi, siang, dan malam hari masing-masing 1 gelas ( 200 ml ).
Jika diminum terus-menurs sampai kira-kira 3 bulan niscaya T.B.C akan sembuh.

Atau resep lain yaitu makan bawah putih pagi dan sore masing-masing 1 siung.

Semoga anda sehat semua.



Sunday, 20 December 2015

OBAT - HILANGKAN PUSING KEPALA

OBAT SAKIT KEPALA

Anda pusing ? apa penyebab pusing ? kalau pusing ga punya uang obatnya ya cari uang, tapi kalau pusing sakit kepala ga sembuh-sembuh ? bahkan anda sampai pusing untuk menghilangkan pusing itu sendiri ?padahal sudah banyak minum obat pusing , nyatanya tetap aja pusing.
Pusing sebelah bisa juga migrane, dan migrane sendiri belum diketahui secara pasti penyebabnya juga munculnya suka tiba-tiba.
Berikut obat tradisional penghilang pusing kepala :
1. Siapakn 3 butir empedu ayam ( tidak harus menyembelih 3 ekor ayam tapi bisa pesan ke tukang
    potong ayam )
2. Telanlah 3 empedu ayam tersebut, mungkin akan terasa anyir ( amis ) bisa dihindari dengan men-
    campurkan ke dalam sesendok makan madu.
3. Kemudin diminum dan dibantu dengan air putih.
Insya Allah pusing akan hilang seketika.

Selamat mencoba semoga semua dalam kadaan sehat

Saturday, 19 December 2015

MENGATASI KURANG DARAH



KURANG DARAH BISA BERBAHAYA, BEGINI MENGATASINYA

Apa tandanya kalau anda kekurangan darah ? biasanya tubuh terutama wajah tampak pucat, suka pusing-pusing, berdiri dari duduk suka kunang-kunang, bahkan sempoyongan akan jatuh, badan tampak lesu dan tidak bersemangat, pandangan mata gelap, ini berbahya, namuan ada cara tradisioanal menggunakan bahan-bahan sederhana ini anda bisa terhindar dari kekurangan darah , caranya :

1.     Siapakan segenggam daun bayam segar.
2.     Siapakan 2 butir telur ayam kampung
3.     Siapkan 1 buah jeruk nipis
4.     Siapkan 1 sendok makan madu asli ( syukur madu arab )

Daun bayam ditumbuk dalam sedikit air,kemudian diperas, ambil 2 kuning telur ayam kampung campurkan pada perasan bayam tersebut, kemudian diaduk bersama dengan perasan juruk nipis dan ditambahkan 1 sendok makan madu asli aduk samapi benar-benar tercampur.

Minumlah ramuan tersebut pagi dan sore, paling tidak 3 hari berturut-turut, niscaya badan akan terasa segar dan kekrangan darah bisa teratasi, setelah sembuh,lakukan paling tidak 2 kali dalam satu minggu.
Semoga kalian sehat semua.....

Monday, 14 December 2015

Gas Chromatography---Cara Memilih Kolom Kapiler GC (Gas Chromatography)





Cara Memilih Kolom Kapiler GC (Gas Chromatography)
Fase diam dalam kolom Enduro terdiri dari unit polimer dasar dengan fungsi yang dapat dimodifikasi dengan penambahan berbagai gugus ketika proses sintesis. Gugus ini dapat ditambahkan dalam berbagai jumlah untuk menciptakan konsentrasi yang berbeda dari fungsi tertentu.
Memilih kolom kapiler yang sesuai untuk pemisahan yang diinginkan mengharuskan Anda untuk mempertimbangkan empat parameter dasar: jenis fase, film thickness, internal diameter kolom dan panjang kolom. Berikut ini panduan untuk membantu Anda memilih kolom yang tepat untuk pekerjaan Anda.
1.      Pemilihan fase
o     Pilih fase paling polar yang akan melakukan pemisahan yang Anda inginkan (EN1, EN5, EN5MS dan EN8).
o     Fase diam non-polar memisahkan analit sesuai urutan titik didih. Dengan meningkatkan jumlah fenil dan/atau konten Cyanopropyl pada fase, dan pemisahan ini kemudian lebih dipengaruhi oleh perbedaan momen dipol atau distribusi muatan (EN10 (1701), ENX50 dan ENX70).
o     Untuk pemisahan senyawa yang berbeda dalam kapasitas ikatan hidrogen mereka (misalnya aldehida dan alkohol), polietilen glikol adalah jenis fase yang paling cocok - EN20 (WAX) dan ENSGW.
2.      Internal Diameter
o     Semakin kecil diameter semakin besar efisiensinya, yang mengarah pada peningkatan resolusi. Kolom untuk analisa lebih cepat memiliki ID 0.1 mm, digunakan karena resolusi yang sama dapat dicapai dalam waktu singkat.
3.      Film Thickness
o     Untuk sampel yang memiliki variasi konsentrasi, dianjurkan menggunakan kolom dengan film thickness > 0,25 µm. Hal ini akan mengurangi kemungkinan overloaded peaks (peak yang lebar) karena berinteraksi/terelusikan dengan senyawa lain. Jika pemisahan dua zat terlarut cukup namun elusi masih tidak memungkinkan, bahkan dengan perbedaan konsentrasi yang besar, maka film thickness tipis dapat digunakan.
o     Semakin besar ukuran film thickness semakin besar retensi zat terlarut, sehingga semakin tinggi suhu elusi.

o     Dari nilai fase rasio, kolom dapat dikategorikan untuk jenis aplikasi yang paling sesuai:
-          Semakin kecil nilai fase rasio, berarti semakin besar fase rasio yang masuk kedalam diameter kolom, sehingga akan lebih baik digunakan untuk menganalisis senyawa volatil.
-          Sebaliknya, kolom yang memiliki film tipis umumnya lebih cocok untuk senyawa dengan berat molekul tinggi dan ditandai dengan nilai fase rasio yang besar.
-          Menjaga fase rasio diantara perbedaan ID kolom dapat menghasilkan kromatografi yang sama.



Application Range for Varying Phase Ratios
16-100        Gases, Low Molecular Weight Hydrocarbons,  Solvents, Volatile Halogens (M.W.16-250)
100-320       Semi-volatiles, General Applications (M.W. 100-700)
320-1325    High Molecular Weight Hydrocarbons,  Waxes, Petroleum  Products (M.W. 300-1500)


4.      Panjang kolom
o     Coba untuk selalu memilih panjang kolom yang lebih pendek yang akan memberikan resolusi yang dibutuhkan untuk aplikasi. Jika panjang kolom maksimum yang tersedia sedang digunakan dan resolusi dari campuran sampel masih kurang memadai maka cobalah mengubah fase diam atau internal diameter.
o     Resolusi sebanding dengan akar kuadrat dari efisiensi kolom, sehingga menggandakan panjang kolom hanya akan meningkatkan kejenuhan kolom dan mempercepat kolom rusak sekitar 40%.

 
Contoh Aplikasi GC
Polynuclear Aromatic Hydrocarbons (PAH) Analysis on ENX50






The Original Article by
Febrianty Eka Putri
Direktur
PT. Maja Bintang Indonesia





POLYESTER PADA TAHAP PRE POLY



POLYESTER : 

PROSES PEMBENTUKAN PRE POLY TAHAP 1 DAN 2 .

Sebagaimana telah kami tunjukan tingkatan proses esterifikasi pada pembentukan ester-ester yang melalui 4 tingkatan, yang mana reaktor 1 dan 2 merupakan proses mulai terjadinya reaksi pembentukan ester, sementara pada reaktor 3 dan 4 terbentuknya Pre poly tahap 1 dan 2.
Pada pre poly tahap 1 yang terjadi pada reaktor 3 suhu dinaikan sampai kisaran 271°C dengan tekanan sampai 180 mBar di sisni akan terbentuk derajat polymerisasi kisaran 88 %, selanjutnya produk pre poly di transfer ke reaktor 4 atau proses pre Poly tahap 2, dengan kondisi suhu dinaikan kisaran 280 - 290°C dan tekanan di turunkan menjadi kisaran 16 mBar,sehingga terbentuk derajat polymerisasi antara 90-95%.
Dari hasil produk Pre Poly dilakukan pengujian antara lain :
1.       Colour
2.       Melting point
3.       Carboxyl  end Group ( -COOH )
4.       %DEG
5.       Intrinsic viscosity.





Thursday, 10 December 2015

DETECTOR PADA GAS CHROMATOGRAPHY

DETECTOR GAS CHROMATOGRAPHY




JENIS DETEKTOR PADA KROMATOGRAFI GAS

    Salah satu komponen utama penting lainnya adalah detector. Detector digunakan untuk memonitor gas pembawa yang keluar dari kolom dan merespon perubahan komposisi solute yang terelusi. Detector merupakan perangkat yang diletakkan pada ujung kolom tempat keluar fase gerak (gas pembawa) yang membawa komponen hasil pemisahan. Detector pada kromatografi merupakan sensor elektronik yang berfungsi mengubah signal gas pembawa dan komponen – komponen didalamnya menjadi signal elektronik. Signal elektronik detector akan sangat berguna untuk analisa kualitatif maupun kuantitatif terhadap komponen komponen yang terpisah diantara fase diam dan fase gerak. Syarat – syarat yang harus dimiliki detector, antara lain :
  • Dapat merespon dengan cepat kehadiran solute
  • Memiliki rentangan respon linier yang luas
  • Memiliki kepekaan tinggi
  • Stabil pada pengoperasian
Beberapa parameter yang sering dijumpai pada detector antara lain :


1.   Ratio signal
   
    Ratio signal terhadap detector (S/N) menyatakan hubungan antara respon detector dengan getaran rekorder setelah pembesaran maksimum. Besaran S/N digunakan untuk menentukan batas deteksi minimum.

2.   Batas deteksi minimum (BDM)
       
        Harga BDM telah tercapai kesepakatan adalah sebesar 2 S/N. Faktor respon dinyatakan dengan rumus A/M, dimana A adalah area puncak dan M adalah cuplikan untuk detector yang peka terhadapmassa. Untuk detector yang peka terhadap konsentrasi digunakan rumus AF/M dimana laju alir pembawa gas.

3.     Kisaran Dinamik Linear (KD)
   
    Kisaran dinamik (KD) menyatakan rasio besarnya solute terhadap besaran solute minimum yang dapat terdeteksi secara linier. Makin besar harga KD makin besar jangkauan konsentrasi yang dapat dianalisis. Pengertian yang lebih operasional untuk KD adalah besaran konsentrasi cuplikan dimana respon berdasarkan pengukuran area kurang lebih 20%.
    Berdasarkan cara kerjanya, detector dibagi menjadi beberapa jenis antara lain  :


1.      Flame Ionization Detector (FID)

       Detector general untuk mengukur komponen-komponen sample yang memiliki gugus alkil (C-H). komponen sample masuk ke FID, kemudian akan dibakar dalam nyala (campuran gas hydrogen dan udara), komponen akan terionisasi, ion – ion yang dihasilkan akan dikumpulkan oleh ion kolektor, arus yang dihasilkan akan diperkuat, kemudian akan dikonversi menjadi satuan tegangan. Semakin tinggi konsentrasi komponen, makin banyak pula ion yang dihasilkan sehingga responnya juga semakin besar. Detector ini mengukur jumlah atom karbon dan besifat umum untuk semua senyawa organik (senyawa flor tinggi dan karbondisulfida tidak terdeteksi). Respon sangat peka, linier ditinjau dari segi ukuran cuplikan serta teliti.

    Hal yang perlu diperhatikan dalam detector ini adalah kecepatan aliran oksigen dan hydrogen, serta suhu (harus diatas 100 C untuk mencegah kondensasi uap air yang mengakibatkan FID berkarat atau kehilangan sensitivitasnya).

 2.      Thermal Conductivity Detector (TCD)

      Detektor paling general karena semua komponen memiliki daya hantar panas. TCD bekerja dengan prinsip mengukur daya hantar panas dari masing masing komponen. Mekanismenya berdasarkan teori “Jembatan Wheatstone”, dimana ada 2 sel yaitu sel referensi dan sel sampel. Sel referensi hanya dilalui oleh gas pembawa, sementara sel sampel dilalu oleh gas pembawa dan komponen sampel. Perbedaan suhu kedua sel akan mengakibatkan perbedaan respon listrik antara keduanya dan ini akan dihitung sebagai respon kelompokan sampel.  Detector TCD banyak digunakan untuk analisis gas. Detector ini didasarkan bahwa panas dihantarkan dari benda yang suhunya tinggi ke benda lain yang suhunya lebih rendah. Pada detector ini filament harus dilindungu dari udara ketika filament itu panas dan tidak boleh dipanaskan tanpa dialiri gas pembawa. Secara teoritis keuntungannya tidak merusak komponen yang di deteksi. Detector hantar panas termasuk detector konsentrasi yakni semua molekul yang melewati diukur jumlah nhya dan tidak tergantung pada laju alir fase gerak.

3.        Electron Capture Detector (ECD)

         Detektor khusus untuk mendeteksi senyawaan halogen organic. Banyak diaplikasikan untuk analisa senyawaan pestisida. Secara prinsip, komponen sample akan ditembak dengan sumber radioaktif Nikel dan jumlah electron yang hilang dari prose situ dianggap linear dengan konsenstrasi senyawaan tersebut. Detector ini dilengkapi dengan radioaktif yaitu 3H atau 63Ni.

        Dasar kerja detector ini adalah penangkapan electron oleh senyawa yang memiliki afinitas terhadap el, sementara yang mengandung fosfor diukur pada ectron bebas, yaitu senyawa yang mempunyai unsure – unsur negatif.

4.      Flame Photometric Detector (FPD)

       Detector khusus untuk mendeteksi senyawaan sulfur, fosfor dan atau timah organic. Prinsip detector ini yaitu senyawa yang mengandung sulfur atau fosfor dibakar dalam nyala hydrogen/oksigen maka akan terbentuk spesies yang tereksitasi dan menghasilkan suatu emisi yang spesifik yang dapat diukur pada panjang gelombang tertentu. Untuk yang mengandung S diukur pada λ 393 nm, sementara yang mengandung fosfor diukur pada λ 526 nm. banyak digunakan untuk analisa senyawaan pestisida.